Archives

Post

Kelabu

Ditemani sebatang Djarum Black
Kutatap langit Jogja yang tanpa bintang
Namun demikian, makin menegaskan keindahan sang rembulan
Dalam kelabunya langit jiwaku

Oh, sepi datanglah
Dekaplah aku dalam sunyimu
Ingin kunikmati kesendirian
Dalam angan tanpa batas
Oh, malam dengarlah
Jerit luka yang tergores cinta

Akankah kurobohkan kembali
Panji kebangkitan dengan bersimbah derita ...


Post

Dilema

Senja itu datang lagi,
namun ku tahu kedatangannya bukanlah untukku.
Tak lama kemudian purnama ufuk timur tiba-tiba muncul,
dengan senyum lembutnya ia sapa aku.
Tapi kusadar ia tak lagi sendiri,
sang kejora tlah memikat hatinya.
Hmm... sungguh suatu
dilema yang kualami.
Dalam kebimbangan,
sang bayu datang membelai lembut jiwaku.
Lentik jemarinya merasuk relung sukma.
Namun ku tak tahu, adakah kedatangannya
untukku atau hanya datang dan berlalu.
Aku tak tahu dan aku tak mau tahu ...
biarlah semua berlalu,
datang dan pergi dalam hidupku ...


Post

Prolog

Demikianlah Sang Pencipta menjadikan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa yang berbeda. Untuk saling mengenal dan mencintai. Begitu pula diriku, yang hanya seorang hamba dhoif. Tanpa daya selain dari kasih sayangNya.